Skip to main content

Posts

Showing posts from 2016

Untuk Kau yang selalu Menemani (Gravity)

Melihat lembar-lembar kelabu yang seiring menguning Aku ingin berkata Adakah kau ingat kapan kertas-kertas pudar ini tercipta Menunjukan betapa kau dan aku tersenyum menatap kebebasan saat itu Awalnya aku tak mengenalmu Untuk mendekat saja aku tidak berani Menebar senyum pun harus secara sembunyi-sembunyi Kau dan aku belum memiliki rasa yang sama saat itu Hingga akhirnya datang sang penghangat di tengah dinginnya suasana Kemudian menyatukan semua rasa yang ada Kau dan aku mulai berdekatan Seperti kelopak yang tumbuh dalam satu tangka bunga Kau dan aku menciptakan keindahan Mengukir cerita bersama kehangatan Kau dan aku tertahan gravitasi Sehingga kita bisa menapaki langkah demi langkah, melewati hari demi hari Sudah enam tahun kau dan aku bersimfoni dalam sebuah nada yang indah Mengukir cerita walau kau dan aku berada pada tempat yang berbeda Kau dan aku tak pernah saling melupakan Aku ingin berterimakasih, u...

Sedikit Cerita Kami

Ini cerita kemarin sore. Hujan membuat basah payung yang semula terlipat. Hmm rasanya aku rindu kehangatan. Wajar saja, sudah lama aku tidak bercengkrama dengan sang penanti. Sulit memang untuk aku yang menanti, setiap hari aku hanya berkaca pada langit, berharap mendapat sedikit celah untuk melihat yang disana. Mungkin untuk yang tidak terbiasa dengan pertemuan diujung senja, kalian tidak akan mau. Jangankan kalian, aku pun sebenarnya tidak mau. Ya tapi apa boleh buat, hanya itu yang dapat dilakukan. Hanya menunggu. Tidak apa-apa, kami adalah dua orang sibuk. Katakan saja begitu. Tapi tidak juga, hanya dia yang sibuk. Aku tidak. Tidak terlalu. Jika ada kesempatan yang dibawa sang waktu, kami juga bertemu. Tidak usah khawatir. Cerita kami tak seburuk itu. Kami ini hanya berbeda dengan orang kebanyakan. Tidak usah giat bertemu, berkabar lewat pesan pun sudah cukup. Aku hanya tidak ingin terlarut begitu dalam pada kehampaan. Aku hanya perlu mawas diri. Harus ingat dia juga sam...

Dari Lorong Kecil lalu “Berubah”

Suasana sore ini sedikit kelabu, aku berjalan menyusuri lorong-lorong kecil di pinggir kota. Iya lorong kecil. Tapi tidak sekecil jalan tikus. Aku sedikit menepi karena kepulan asap yang mengganggu. Menurutku sangat mengganggu dan menghilangkan sedikit bumbu dari penampilanku sore ini. Jalanan tampak sepi, hanya beberapa orang yang melintasi lorong kecil ini bersamaku. Sedikit membuat bulu kuduk ini berdiri, ditambah dinding-dinding yang basah dan air-air yang menggenang terlintasi oleh kaki dengan sandal berpita oranye. Sssstt, jangan khawatir. Ini bukan cerita horror. Aku hanya terbawa suasana. Hahaha Setelah lorong berkelok-kelok yang sedikit mirip labirin berhasil terlewati, akhirnya aku sampai di tempat yang ramai. Fyuuh.. aku bernafas lega. Seperti baru menghirup oksigen kembali. Aku memang selalu takut ketika sedang berjalan di dalam lorong sendiri, rasanya sangat meningkatkan adrenalin. Aku terlalu termakan oleh cerita-cerita tak masuk akal. Sepertinya aku harus mulai perc...

Tentang Hujan, Secangkir Kopi dan Perasaanku

Berlalu dan berhembus akankah kau tau mengapa Gemericik kemarin aku sendiri di ujung kenangan Menebar embun kelabu tak tau bagaimana ku bisa Riuh dan dingin menanti beribu kata tak terucap Bukankah menyaksikan kehangatan yang terbuang sungguh pilu Mengepul putih dari genggaman tangan Kau bilang jika sudah dingin tak menyenangkan Ku bilang ini hanya secangkir fatamorgana yang bisa saja menghilang Satu persatu payung mulai ditutup oleh tuannya, menandakan si hujan berlalu Hitam jauh menghitam tanpa meninggalkan kepulan putih menemani Lantas ku cicipi kopi pahit membuatku lebih baik menelan rasa yang sama Sehingga ku biarkan secangkir kerinduan disudut kota ini sore itu -bersama malam diujung lelap-