Skip to main content

Dari Lorong Kecil lalu “Berubah”

Suasana sore ini sedikit kelabu, aku berjalan menyusuri lorong-lorong kecil di pinggir kota. Iya lorong kecil. Tapi tidak sekecil jalan tikus. Aku sedikit menepi karena kepulan asap yang mengganggu. Menurutku sangat mengganggu dan menghilangkan sedikit bumbu dari penampilanku sore ini.
Jalanan tampak sepi, hanya beberapa orang yang melintasi lorong kecil ini bersamaku. Sedikit membuat bulu kuduk ini berdiri, ditambah dinding-dinding yang basah dan air-air yang menggenang terlintasi oleh kaki dengan sandal berpita oranye. Sssstt, jangan khawatir. Ini bukan cerita horror. Aku hanya terbawa suasana. Hahaha
Setelah lorong berkelok-kelok yang sedikit mirip labirin berhasil terlewati, akhirnya aku sampai di tempat yang ramai. Fyuuh.. aku bernafas lega. Seperti baru menghirup oksigen kembali. Aku memang selalu takut ketika sedang berjalan di dalam lorong sendiri, rasanya sangat meningkatkan adrenalin. Aku terlalu termakan oleh cerita-cerita tak masuk akal. Sepertinya aku harus mulai percaya pada realita saja.
Di persimpangan jalan terlihat gadis berkacamata dengan baju garis-garis berjalan melewatiku. Sepertinya aku mengenal dia,
“Riana..” tak ada respon, ia tetap berjalan
“Rianaa.. Rianaa..” dan akhirnya ia sadar bahwa gadis dengan sandal jepit berpita sedang memanggilnya.
“Hey. Hello Luna”
“Kamu mau kemana?” sejujurnya aku tidak harus menanyakan ini.
“Ya ampun Lun, jangan pura-pura, kita punya tujuan yang sama”
Iya, sore ini aku dan tentu saja Riana akan menghadiri rapat untuk acara yang seminggu lagi akan diselenggarakan. Bagiku ini rapat perdana di acara minggu depan nanti, kemarin aku sedikit molor. Haha. Maafkan aku, kesibukan yang terlalu padat ini membuatku sulit untuk memilih mana yang harus diprioritaskan. Hingga yang terburuk adalah, tidak ada satu pun yang aku hadiri. Aku sepertinya harus lebih tegas dalam memilih.
Tunggu sebentar.
Disini aku tidak akan bercerita tentang bagaimana rapat yang aku hadiri, semua tulisan di atas aku buat untuk menutupi apa yang akan aku tuliskan sekarang. Hahaha
Di ujung senja ini, aku dibuat tersadar akan sesuatu. Banyak yang berubah dalam cerita yang belum terpikirkan akan berakhir bagaimana. Aku sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan, siapa dan apa yang berubah. Namun, menurutku perubahan ini terlalu cepat. Aku belum terbiasa dengan orang-orang yang berubah. Orang-orang yang memiliki pengaruh dalam kehidupan, dan sekarang berubah. Harus bagaimana menanggapinya, aku tidak terlalu mengerti.
Perubahan yang ada mungkin saja merupakan salah satu dari tekanan yang ada di dalam kehidupan. Mungkin saja ketika seseorang merasa dirinya tidak pantas atau merasa ada sedikit yang kurang, maka ia akan memperbaiki hidupnya. Kemudian akan disadari oleh orang lain bahwa seseorang tersebut berubah.
Aku sangat menghargai perubahan, karena sejujurnya aku pun ingin berubah. Apapun yang harus dan perlu aku rubah, maka aku akan merubahnya. Sekarang pun sebenarnya sudah dimulai. Hmm.. Saat seperti ini aku jadi ingin menulis kata-kata yang mewakili alunan jiwa.


Berubah.
Berubah akan membuat seseorang bahagia bahkan bersedih
Ketika langit membiru lalu kelabu, aku sedih
Ketika langit kelabu lalu membiru, aku bahagia
Saat itulah dibuatnya kau merasa mengerti bagaimana harus menanggapi

Ini cerita padi
Padi yang menghijau lalu menguning
Bersamanya terdengar bahagia seperti penuh sorak sorai
Mensyukuri apa yang didapat sang pejuang atas perubahan yang terjadi
Padi yang menghijau lalu menguning
Setelahnya banyak jiwa yang dimakmurkan
Merasa terpuaskan sehingga menjalani berhari-hari tanpa terseok-seok
Padi yang menghijau lalu menguning, membuat bahagia setelah menanti

Ini cerita dinding yang kusam
Dinding yang putih lalu menguning
Akankah membawa bahagia?
Satu dan dua jiwa merasa teriris perih
menyaksikan ada yang tak diinginkan
Dinding yang putih lalu menguning
Mendatangkan si mata sayu tak berhasrat
Tidak menerima perubahan yang membuat hilang keindahan

           Dinding yang putih lalu menguning, meninggalkan cerita yang berbeda 

Comments

Popular posts from this blog

Tentang Hujan, Secangkir Kopi dan Perasaanku

Berlalu dan berhembus akankah kau tau mengapa Gemericik kemarin aku sendiri di ujung kenangan Menebar embun kelabu tak tau bagaimana ku bisa Riuh dan dingin menanti beribu kata tak terucap Bukankah menyaksikan kehangatan yang terbuang sungguh pilu Mengepul putih dari genggaman tangan Kau bilang jika sudah dingin tak menyenangkan Ku bilang ini hanya secangkir fatamorgana yang bisa saja menghilang Satu persatu payung mulai ditutup oleh tuannya, menandakan si hujan berlalu Hitam jauh menghitam tanpa meninggalkan kepulan putih menemani Lantas ku cicipi kopi pahit membuatku lebih baik menelan rasa yang sama Sehingga ku biarkan secangkir kerinduan disudut kota ini sore itu -bersama malam diujung lelap-

Hilang

Berbicara mengenai berhak atau tidak, kian hari semakin membuat runyam isi kepala. Ingin mengungkapkan semua yang telah dilalui, meski hanya sekedar cerita lelucon tadi pagi. Tapi pada siapa?  Rasanya Isi kepala hanya dipenuhi oleh prasangka-prasangka sampah saja. Menghabiskan waktu untuk memikirkan sesuatu yang jelas-jelas menguras energi. Bahkan orang lain pun dipikirkan secara sukarela sehingga diri kesulitan untuk menempatkan 'perasaannya'. Ego menjadi semakin berkuasa sementara hati dan pikiran kian hari kian hilang koneksinya. Ketakutan tanpa sebab terus menghantui di ujung sayup-sayup pada saat sebentar lagi terbenam. Kegelisahan seolah-olah adalah sosok nyata, melambaikan lengannya pada setiap kedipan mata. Seperti meminta pertolongan namun kenyataannya bisa saja mencelakai. Malam ini aku benar-benar merasa seolah kehilangan semuanya.

Untuk Kau yang selalu Menemani (Gravity)

Melihat lembar-lembar kelabu yang seiring menguning Aku ingin berkata Adakah kau ingat kapan kertas-kertas pudar ini tercipta Menunjukan betapa kau dan aku tersenyum menatap kebebasan saat itu Awalnya aku tak mengenalmu Untuk mendekat saja aku tidak berani Menebar senyum pun harus secara sembunyi-sembunyi Kau dan aku belum memiliki rasa yang sama saat itu Hingga akhirnya datang sang penghangat di tengah dinginnya suasana Kemudian menyatukan semua rasa yang ada Kau dan aku mulai berdekatan Seperti kelopak yang tumbuh dalam satu tangka bunga Kau dan aku menciptakan keindahan Mengukir cerita bersama kehangatan Kau dan aku tertahan gravitasi Sehingga kita bisa menapaki langkah demi langkah, melewati hari demi hari Sudah enam tahun kau dan aku bersimfoni dalam sebuah nada yang indah Mengukir cerita walau kau dan aku berada pada tempat yang berbeda Kau dan aku tak pernah saling melupakan Aku ingin berterimakasih, u...