Suasana sore ini sedikit kelabu, aku berjalan menyusuri
lorong-lorong kecil di pinggir kota. Iya lorong kecil. Tapi tidak sekecil jalan
tikus. Aku sedikit menepi karena kepulan asap yang mengganggu. Menurutku sangat
mengganggu dan menghilangkan sedikit bumbu dari penampilanku sore ini.
Jalanan tampak sepi, hanya beberapa orang yang melintasi
lorong kecil ini bersamaku. Sedikit membuat bulu kuduk ini berdiri, ditambah
dinding-dinding yang basah dan air-air yang menggenang terlintasi oleh kaki
dengan sandal berpita oranye. Sssstt, jangan khawatir. Ini bukan cerita horror.
Aku hanya terbawa suasana. Hahaha
Setelah lorong berkelok-kelok yang sedikit mirip labirin
berhasil terlewati, akhirnya aku sampai di tempat yang ramai. Fyuuh.. aku
bernafas lega. Seperti baru menghirup oksigen kembali. Aku memang selalu takut
ketika sedang berjalan di dalam lorong sendiri, rasanya sangat meningkatkan
adrenalin. Aku terlalu termakan oleh cerita-cerita tak masuk akal. Sepertinya
aku harus mulai percaya pada realita saja.
Di persimpangan jalan terlihat gadis berkacamata dengan
baju garis-garis berjalan melewatiku. Sepertinya aku mengenal dia,
“Riana..” tak ada respon, ia tetap berjalan
“Rianaa.. Rianaa..” dan akhirnya ia sadar bahwa gadis
dengan sandal jepit berpita sedang memanggilnya.
“Hey. Hello Luna”
“Kamu mau kemana?” sejujurnya aku tidak harus menanyakan
ini.
“Ya ampun Lun, jangan pura-pura, kita punya tujuan yang
sama”
Iya, sore ini aku dan tentu saja Riana akan menghadiri
rapat untuk acara yang seminggu lagi akan diselenggarakan. Bagiku ini rapat
perdana di acara minggu depan nanti, kemarin aku sedikit molor. Haha. Maafkan
aku, kesibukan yang terlalu padat ini membuatku sulit untuk memilih mana yang
harus diprioritaskan. Hingga yang terburuk adalah, tidak ada satu pun yang aku
hadiri. Aku sepertinya harus lebih tegas dalam memilih.
Tunggu sebentar.
Disini aku tidak akan bercerita tentang bagaimana rapat
yang aku hadiri, semua tulisan di atas aku buat untuk menutupi apa yang akan aku
tuliskan sekarang. Hahaha
Di ujung senja ini, aku dibuat tersadar akan sesuatu.
Banyak yang berubah dalam cerita yang belum terpikirkan akan berakhir
bagaimana. Aku sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan, siapa dan apa yang
berubah. Namun, menurutku perubahan ini terlalu cepat. Aku belum terbiasa
dengan orang-orang yang berubah. Orang-orang yang memiliki pengaruh dalam
kehidupan, dan sekarang berubah. Harus bagaimana menanggapinya, aku tidak
terlalu mengerti.
Perubahan yang ada mungkin saja merupakan salah satu dari
tekanan yang ada di dalam kehidupan. Mungkin saja ketika seseorang merasa
dirinya tidak pantas atau merasa ada sedikit yang kurang, maka ia akan
memperbaiki hidupnya. Kemudian akan disadari oleh orang lain bahwa seseorang
tersebut berubah.
Aku sangat menghargai perubahan, karena sejujurnya aku pun
ingin berubah. Apapun yang harus dan perlu aku rubah, maka aku akan merubahnya.
Sekarang pun sebenarnya sudah dimulai. Hmm.. Saat seperti ini aku jadi ingin
menulis kata-kata yang mewakili alunan jiwa.
Berubah.
Berubah akan membuat
seseorang bahagia bahkan bersedih
Ketika langit membiru
lalu kelabu, aku sedih
Ketika langit kelabu
lalu membiru, aku bahagia
Saat itulah dibuatnya
kau merasa mengerti bagaimana harus menanggapi
Ini cerita padi
Padi yang menghijau
lalu menguning
Bersamanya terdengar
bahagia seperti penuh sorak sorai
Mensyukuri apa yang
didapat sang pejuang atas perubahan yang terjadi
Padi yang menghijau
lalu menguning
Setelahnya banyak jiwa
yang dimakmurkan
Merasa terpuaskan
sehingga menjalani berhari-hari tanpa terseok-seok
Padi yang menghijau
lalu menguning, membuat bahagia setelah menanti
Ini cerita dinding yang
kusam
Dinding yang putih lalu
menguning
Akankah membawa
bahagia?
Satu dan dua jiwa
merasa teriris perih
menyaksikan ada yang
tak diinginkan
Dinding yang putih lalu
menguning
Mendatangkan si mata
sayu tak berhasrat
Tidak menerima
perubahan yang membuat hilang keindahan
Dinding yang putih lalu menguning, meninggalkan
cerita yang berbeda
Comments