Skip to main content

Sedikit Cerita Kami


Ini cerita kemarin sore. Hujan membuat basah payung yang semula terlipat. Hmm rasanya aku rindu kehangatan. Wajar saja, sudah lama aku tidak bercengkrama dengan sang penanti. Sulit memang untuk aku yang menanti, setiap hari aku hanya berkaca pada langit, berharap mendapat sedikit celah untuk melihat yang disana.
Mungkin untuk yang tidak terbiasa dengan pertemuan diujung senja, kalian tidak akan mau. Jangankan kalian, aku pun sebenarnya tidak mau. Ya tapi apa boleh buat, hanya itu yang dapat dilakukan. Hanya menunggu.
Tidak apa-apa, kami adalah dua orang sibuk. Katakan saja begitu. Tapi tidak juga, hanya dia yang sibuk. Aku tidak. Tidak terlalu.
Jika ada kesempatan yang dibawa sang waktu, kami juga bertemu. Tidak usah khawatir. Cerita kami tak seburuk itu. Kami ini hanya berbeda dengan orang kebanyakan. Tidak usah giat bertemu, berkabar lewat pesan pun sudah cukup.
Aku hanya tidak ingin terlarut begitu dalam pada kehampaan. Aku hanya perlu mawas diri. Harus ingat dia juga sama denganku. Dia juga menunggu, aku tau. 

Comments

Popular posts from this blog

Tentang Hujan, Secangkir Kopi dan Perasaanku

Berlalu dan berhembus akankah kau tau mengapa Gemericik kemarin aku sendiri di ujung kenangan Menebar embun kelabu tak tau bagaimana ku bisa Riuh dan dingin menanti beribu kata tak terucap Bukankah menyaksikan kehangatan yang terbuang sungguh pilu Mengepul putih dari genggaman tangan Kau bilang jika sudah dingin tak menyenangkan Ku bilang ini hanya secangkir fatamorgana yang bisa saja menghilang Satu persatu payung mulai ditutup oleh tuannya, menandakan si hujan berlalu Hitam jauh menghitam tanpa meninggalkan kepulan putih menemani Lantas ku cicipi kopi pahit membuatku lebih baik menelan rasa yang sama Sehingga ku biarkan secangkir kerinduan disudut kota ini sore itu -bersama malam diujung lelap-

Hilang

Berbicara mengenai berhak atau tidak, kian hari semakin membuat runyam isi kepala. Ingin mengungkapkan semua yang telah dilalui, meski hanya sekedar cerita lelucon tadi pagi. Tapi pada siapa?  Rasanya Isi kepala hanya dipenuhi oleh prasangka-prasangka sampah saja. Menghabiskan waktu untuk memikirkan sesuatu yang jelas-jelas menguras energi. Bahkan orang lain pun dipikirkan secara sukarela sehingga diri kesulitan untuk menempatkan 'perasaannya'. Ego menjadi semakin berkuasa sementara hati dan pikiran kian hari kian hilang koneksinya. Ketakutan tanpa sebab terus menghantui di ujung sayup-sayup pada saat sebentar lagi terbenam. Kegelisahan seolah-olah adalah sosok nyata, melambaikan lengannya pada setiap kedipan mata. Seperti meminta pertolongan namun kenyataannya bisa saja mencelakai. Malam ini aku benar-benar merasa seolah kehilangan semuanya.

Untuk Kau yang selalu Menemani (Gravity)

Melihat lembar-lembar kelabu yang seiring menguning Aku ingin berkata Adakah kau ingat kapan kertas-kertas pudar ini tercipta Menunjukan betapa kau dan aku tersenyum menatap kebebasan saat itu Awalnya aku tak mengenalmu Untuk mendekat saja aku tidak berani Menebar senyum pun harus secara sembunyi-sembunyi Kau dan aku belum memiliki rasa yang sama saat itu Hingga akhirnya datang sang penghangat di tengah dinginnya suasana Kemudian menyatukan semua rasa yang ada Kau dan aku mulai berdekatan Seperti kelopak yang tumbuh dalam satu tangka bunga Kau dan aku menciptakan keindahan Mengukir cerita bersama kehangatan Kau dan aku tertahan gravitasi Sehingga kita bisa menapaki langkah demi langkah, melewati hari demi hari Sudah enam tahun kau dan aku bersimfoni dalam sebuah nada yang indah Mengukir cerita walau kau dan aku berada pada tempat yang berbeda Kau dan aku tak pernah saling melupakan Aku ingin berterimakasih, u...